Selasa, 15 Februari 2011

Sahabat Palsu

Yohanes 15:9-16

15:9 "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.

15:10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.

15:11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.

15:12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.

15:13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.

15:14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.

15:15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.

15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.

-------------------------------------------

Amsal 17:17

17:17 Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. 

Bacaan FT : Yohanes 15: 9-16

Ayat Mas : Amsal 17:17


Budi dan Toni berteman baik. Kepada orang lain, Toni kerap mengaku sahabat Budi dan sering memuji Budi sebagai sahabat yang sangat baik. Anehnya, setiap kali Budi ingin berbicara dengan Toni, acap Toni menghindar dengan alasan sibuk. Ketika Budi meminta Toni melakukan sesuatu untuknya, Toni selalu menolak. Jadi, apakah mereka benar-benar bersahabat? Sepertinya tidak. Sahabat bukan sekadar seseorang yang mau mengakui atau memuji, tetapi yang bersedia untuk ada ketika sang sahabat memerlukannya.

Dalam Yohanes 15, Yesus berbicara tentang persahabatan. “Kamu adalah sahabat-Ku” (ayat 14). “Aku tidak lagi menyebut kamu hamba … tetapi … sahabat” (ayat 15). Tak diragukan lagi, Kristus adalah Sahabat terbaik yang bisa kita miliki. Dia sudah membuktikan kasih-Nya.

Dia memberikan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabat-Nya (ayat 13). Lalu, apa kita sudah menjadi sahabat yang baik bagi-Nya? Atau, selama ini kita hanya mengaku sahabat, tetapi tak pernah memberi waktu untuk berbicara dengan-Nya, meminta pendapat-Nya saat mengambil keputusan, atau melakukan apa yang membuat-Nya senang? Pedulikah kita pada hati Kristus yang menangis bagi jiwa yang terhilang? Pedulikah kita pada hal yang membuat Yesus sedih?

Pada ayat 14, Yesus berkata bahwa sebagai sahabat-Nya kita tak cukup hanya mengaku dan menyanyi bahwa Yesus adalah sahabat sejati. Sebagai sahabat-Nya, kita harus melakukan perintah-Nya, menghindari apa yang mendukakan-Nya, selalu setia kepada-Nya.

Karena sahabat menaruh kasih setiap waktu, dalam kesesakan atau kesuksesan, waktu sehat atau sakit. Kristus mau menjadi sahabat Anda, maukah Anda menjadi sahabat-Nya?

MEMILIKI KRISTUS SEBAGAI SAHABAT ADALAH ANUGERAH TERBESAR ,
MENJADI SAHABAT KRISTUS ADALAH KEHORMATAN TERBESAR

Damai dari tuhan Yesus menyertaimu .

Penulis: Grace Suryani 

Selasa, 08 Februari 2011

Godaan Langkah Tengah

Mazmur 73

73:1 Mazmur Asaf. Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya.

73:2 Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir.

73:3 Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.

73:4 Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka;

73:5 mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain.

73:6 Sebab itu mereka berkalungkan kecongkakan dan berpakaian kekerasan.

73:7 Karena kegemukan, kesalahan mereka menyolok, hati mereka meluap-luap dengan sangkaan.

73:8 Mereka menyindir dan mengata-ngatai dengan jahatnya, hal pemerasan dibicarakan mereka dengan tinggi hati.

73:9 Mereka membuka mulut melawan langit, dan lidah mereka membual di bumi.

73:10 Sebab itu orang-orang berbalik kepada mereka, mendapatkan mereka seperti air yang berlimpah-limpah.

73:11 Dan mereka berkata: "Bagaimana Allah tahu hal itu, adakah pengetahuan pada Yang Mahatinggi?"

73:12 Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka menambah harta benda dan senang selamanya!

73:13 Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah.

73:14 Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.

73:15 Seandainya aku berkata: "Aku mau berkata-kata seperti itu," maka sesungguhnya aku telah berkhianat kepada angkatan anak-anakmu.

73:16 Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku,

73:17 sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka.

73:18 Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur.

73:19 Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan!

73:20 Seperti mimpi pada waktu terbangun, ya Tuhan, pada waktu terjaga, rupa mereka Kaupandang hina.

73:21 Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya,

73:22 aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu.

73:23 Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku.

73:24 Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan.

73:25 Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.

73:26 Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.

73:27 Sebab sesungguhnya, siapa yang jauh dari pada-Mu akan binasa; Kaubinasakan semua orang, yang berzinah dengan meninggalkan Engkau.

73:28 Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya.

----------------------------------------------------

Amsal 24:14

24:14 Ketahuilah, demikian hikmat untuk jiwamu: Jika engkau mendapatnya, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang. 

Bacaan FT : Mazmur 73

Ayat Mas : Amsal 24:14

Saya pernah berkomitmen untuk berolahraga setiap hari. Dan, untuk memenuhi komitmen saya tersebut, maka saya membeli sebuah alat olahraga. Ketika memulai komitmen itu, semangat saya berkobar-kobar; tiada hari tanpa olahraga.

Namun sayang, komitmen tersebut tidak bertahan lama. Beberapa waktu kemudian semangat saya mulai pudar dan akhirnya saya berhenti berolahraga. Godaan untuk berhenti yang paling besar adalah godaan yang muncul di langkah tengah.

Asaf pernah tergoda untuk berhenti dari segala upayanya menjaga kekudusan di hadapan Tuhan. Ia merasa bahwa segala upayanya sia-sia tatkala melihat orang fasik ternyata bisa hidup lebih baik. Dalam pikirannya, ia mengira bahwa seharusnya orang fasik dihukum Tuhan dan orang benar diberkati. Akan tetapi kenyataan yang dilihatnya malah yang sebaliknya.

Meski demikian, dalam perjalanan melewati pergumulan tersebut Alkitab mencatat bahwa akhirnya Asaf bertobat dan kembali melangkah. Apa yang membuatnya kembali melangkah? Ketika melihat garis akhir, ia sadar bahwa selama ini ia memandang segala sesuatu berdasarkan pikirannya sendiri, bukan dari sudut pandang Allah. Ia hanya melihat apa yang ada di depan mata, bukan garis akhirnya.

Dalam perjalanan hidup kristiani, kita bisa mengalami apa yang dialami Asaf. Kita bisa tergoda untuk berhenti di tengah jalan. Kita mungkin melihat seolah-olah segala upaya mengikut Tuhan sia-sia, karena Tuhan tidak melakukan seperti apa yang kita inginkan atau pikirkan. Maka, penting sekali kita memelihara pengharapan dengan melihat garis akhir kehidupan setiap orang, menurut sudut pandang Allah.

RETRET BERARTI BERHENTI DARI SEGALA KEGIATAN KITA
DAN KEMBALI MELIHAT HIDUP DARI SUDUT PANDANG ALLAH

Damai dari Tuhan Yesus menyertaimu .

Penulis: Riand Yovindra 

Selasa, 25 Januari 2011

Meruntuhkan Benteng

Kisah Para Rasul 10:25-36

10:25 Ketika Petrus masuk, datanglah Kornelius menyambutnya, dan sambil tersungkur di depan kakinya, ia menyembah Petrus.

10:26 Tetapi Petrus menegakkan dia, katanya: "Bangunlah, aku hanya manusia saja."

10:27 Dan sambil bercakap-cakap dengan dia, ia masuk dan mendapati banyak orang sedang berkumpul.

10:28 Ia berkata kepada mereka: "Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir.

10:29 Itulah sebabnya aku tidak berkeberatan ketika aku dipanggil, lalu datang ke mari. Sekarang aku ingin tahu, apa sebabnya kamu memanggil aku."

10:30 Jawab Kornelius: "Empat hari yang lalu kira-kira pada waktu yang sama seperti sekarang, yaitu jam tiga petang, aku sedang berdoa di rumah. Tiba-tiba ada seorang berdiri di depanku, pakaiannya berkilau-kilauan

10:31 dan ia berkata: Kornelius, doamu telah didengarkan Allah dan sedekahmu telah diingatkan di hadapan-Nya.

10:32 Suruhlah orang ke Yope untuk menjemput Simon yang disebut Petrus; ia sedang menumpang di rumah Simon, seorang penyamak kulit, yang tinggal di tepi laut.

10:33 Karena itu segera kusuruh orang kepadamu, dan dengan senang hati engkau telah datang. Sekarang kami semua sudah hadir di sini di hadapan Allah untuk mendengarkan apa yang ditugaskan Allah kepadamu."

10:34 Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.

10:35 Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.

10:36 Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang.

-----------------------------------------------------------------

Markus 12:31

12:31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini." 

Bacaan FT : Kisah Para Rasul 10:25-36

Ayat Mas : Markus 12:31


Di Inggris pada abad ke-18, hanya wanita bangsawan yang dapat memakai gaun katun bercorak karena harganya mahal. Maka ketika itu, gaun katun corak menjadi simbol kekayaan. Akan tetapi, perubahan industri abad ke-19 mengubah segalanya: produksi katun corak yang lebih mudah membuat harganya sangat turun, sehingga wanita kaum pekerja pun kerap memakainya.

Tidak terima dengan perkembangan ini, para wanita bangsawan lantas mengganti tren dengan kain putih polos. Demikianlah, saat sebuah “jembatan” nyaris tercipta, para wanita bangsawan itu malah lebih suka membuat “benteng”.

Bahkan, kita pun tak dapat memungkiri bahwa hingga sekarang, pembatas-pembatas di antara manusia masih ada—ada yang tampak, ada yang tidak, memisahkan antara “kita” dan “mereka”.

Mungkin kita mengajarkan kasih Kristus kepada anak-anak, tetapi bisa jadi kita juga melarang mereka bergaul dengan orang yang tidak sederajat. Bahkan, mungkin ada orangtua yang “mengutip” secara tak lengkap ayat Alkitab dan mengatakan bahwa kita sebagai “terang” tak dapat bergaul dengan mereka yang “gelap”.

Pada zaman Petrus hidup, kaum Yahudi mewarisi budaya yang melarang keras pergaulan dengan kaum non-Yahudi. Namun, Tuhan meminta Petrus memenuhi undangan Kornelius, seorang perwira Romawi.

Sebelum dipertemukan dengan Kornelius, Petrus mendapat penglihatan dari Allah bahwa karunia dan kasih Kristus terbuka juga bagi orang-orang dari segala latar belakang. Dan Kornelius pun menjadi pengikut Kristus.

Apabila Allah pun meruntuhkan “benteng” yang memisahkan, jangan kita malah membangunnya kembali. Saatnya membangun banyak “jembatan” yang mempersatukan.

MARI BANGUN BANYAK JEMBATAN YANG MEMPERSATUKAN
SEBAB TUHAN RINDU SELURUH DUNIA DISELAMATKAN

Damai dari Tuhan Yesus menyertaimu .

Penulis: Olivia Elena 

Jumat, 21 Januari 2011

Disentuh Oleh Kasih

Lukas 6:27-36

6:27 "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;

6:28 mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.

6:29 Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.

6:30 Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.

6:31 Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.

6:32 Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka.

6:33 Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.

6:34 Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.

6:35 Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.

6:36 Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."

------------------------------------------------------

Matius 5:16
5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." 

Bacaan FT : Lukas 6:27-36

Ayat Mas : Matius 5:16

Fredy dan istrinya belum mengenal Tuhan.Tetangganya seorang kristiani. Mereka berteman, tetapi tidak akrab. Ketika istri Fredy meninggal, Fredy sangat terpukul. Beberapa tahun kemudian ia bersaksi: “Tetangga sayalah yang mengurus pemakaman. Malam itu dengan hati hampa, saya berjalan jauh tanpa arah, lalu duduk di tepi sungai semalaman. Tetangga saya itu menemani sampai pagi.

Ia tidak berbicara apa pun. Setelah fajar tiba, saya diajaknya makan. Sejak itu saya ikut ke gerejanya. Saya ingin menganut agama yang bisa mengubah orang menjadi begitu penuh kasih seperti dia.”

Setiap orang bisa mengasihi, tetapi sering lingkaran kasihnya terbatas. Yang masuk dalam lingkaran hanya keluarga, sahabat akrab, dan rekan seiman. Tuhan meminta kita memperluas lingkaran kasih itu, sampai mengasihi musuh (ayat 28,29) dan mereka yang tak memedulikan kita (ayat 33).

Kita juga diminta meningkatkan kualitas kasih sampai di atas rata-rata. Misalnya, meminjamkan tanpa menuntut kembali (ayat 33-35). Memberi lebih dari yang diminta. Semua ini mungkin, karena kita pun telah menerima kasih Bapa yang di atas rata-rata. Pada dasarnya kita termasuk “orang jahat dan tidak tahu berterima kasih” (ayat 35), tetapi dislamatkan Tuhan!

Banyak orang di sekitar Anda yang miskin kasih dan iman. Sebuah pelayanan kasih yang tulus bisa membuka jalan kepada Tuhan. Anda dapat menjadi terang! Akan tetapi, hidup orang tidak akan tersentuh apabila kasih Anda terbatas. Standar. Biasa saja. Sentuhlah hidup mereka dengan kasih sebesar yang telah Anda terima dari Kristus.

Anda telah menerima kasih seluas samudra maka Jangan hanya membagikan segelas air saja

Damai dari Tuhan Yesus menyertaimu .

Penulis: Juswantori Ichwan 

Senin, 20 Desember 2010

Kadaluwarsa

Mazmur 90

90:1 Doa Musa, abdi Allah. Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun.

90:2 Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah.

90:3 Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: "Kembalilah, hai anak-anak manusia!"

90:4 Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam.

90:5 Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh,

90:6 di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu.

90:7 Sungguh, kami habis lenyap karena murka-Mu, dan karena kehangatan amarah-Mu kami terkejut.

90:8 Engkau menaruh kesalahan kami di hadapan-Mu, dan dosa kami yang tersembunyi dalam cahaya wajah-Mu.

90:9 Sungguh, segala hari kami berlalu karena gemas-Mu, kami menghabiskan tahun-tahun kami seperti keluh.

90:10 Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.

90:11 Siapakah yang mengenal kekuatan murka-Mu dan takut kepada gemas-Mu?

90:12 Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.

90:13 Kembalilah, ya TUHAN--berapa lama lagi? --dan sayangilah hamba-hamba-Mu!

90:14 Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami.

90:15 Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Engkau menindas kami, seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami celaka.

90:16 Biarlah kelihatan kepada hamba-hamba-Mu perbuatan-Mu, dan semarak-Mu kepada anak-anak mereka.

90:17 Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah itu. 

Bacaan FT : Mazmur 90

Ayat Mas : Mazmur 90:9
Televisi tua Anda rusak? Komputer ngadat setelah bertahun-tahun dipakai bekerja? Jangan heran! Sebagaimana obat dan makanan punya tanggal kedaluwarsa, barang elektronik juga punya usia hidup (lifetime). Usia hidup televisi LCD, misalnya, sekitar 20.000-30.000 jam.

Ia akan rusak setelah dipakai melewati batas waktu itu. Uniknya lagi, jika dipakai tidak sesuai petunjuk pemakaian, usia hidupnya bisa berkurang banyak. Kedaluwarsa sebelum waktunya!

Usia hidup manusia pun ada batasnya. Rata-rata 70-80 tahun saja, menurut pemazmur (ayat 10). Singkat sekali jika dibanding “masa hidup” Tuhan yang tak terbatas (ayat 1,2). Seandainya manusia bisa hidup 1.000 tahun pun, waktu sepanjang itu di mata Tuhan hanya sependek “giliran jaga malam” (ayat 4).

Tragisnya, masa hidup kita yang sudah singkat ini bisa berkurang pula. Kematian bisa menjemput kapan pun, saat Tuhan berkata “Kembalilah!” (ayat 3). Atau kalaupun usia hidup kita panjang, hari-hari indahnya sedikit. Minim. Lebih banyak waktu kita habiskan dalam keluhan, kesukaran, dan penderitaan yang tidak perlu, karena dosa yang tak diselesaikan (ayat 8-10).

Anda ingin memakai tiap hari dengan bijak? Kenalilah “kekuatan murka Tuhan” (ayat 11). Artinya, sadarilah bahwa hidup dalam dosa itu menghabiskan waktu! Akibat dosa, kita harus menanggung hukuman yang membuat hari-hari indah berubah menjadi suram. Terbuang percuma.

Sayang, bukan? Mari gunakan setiap hari secara hati-hati, sesuai petunjuk firman Tuhan. Jangan sampai dosa membuat hidup Anda kedaluwarsa sebelum waktunya.

Berbuat dosa itu gampang namun, akibatnya berbuntut panjang

Damai dari Tuhan Yesus menyertaimu .

Penulis: Juswantori Ichwan 

Kamis, 16 Desember 2010

Menerima Teguran

Galatia 2:11-14

2:11 Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah.

2:12 Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat.

2:13 Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka.

2:14 Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: "Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?"

Bacaan FT : Galatia 2:11-14

Ayat Mas : Amsal 6:23


Menerima teguran, sekalipun jelas-jelas kita ini salah dan patut ditegur, biasanya tetap saja menimbulkan perasaan tidak enak dalam hati. Itulah sebabnya banyak orang yang tidak suka, bahkan marah kalau ditegur. Mereka lebih senang menerima pujian, walau hanya basa-basi.

Sikap “anti teguran” ini keliru. Sebab bagaimana pun kita tidak selalu benar. Ada saatnya kita berbuat salah, dan karenanya membutuhkan teguran supaya bisa memperbaiki diri.

Randy Pausch, dalam bukunya yang sangat terkenal, The Last Lecture, menulis demikian, “Kalau Anda melihat diri Anda melakukan sesuatu yang buruk dan sudah tidak ada lagi orang yang mau repot-repot memberi tahu Anda, maka tempat itu tidak baik untuk Anda.

Anda mungkin tidak ingin mendapat teguran, tetapi orang yang menegur Anda kerap kali adalah satu-satunya orang yang memberi tahu bahwa ia masih mengasihi dan memedulikan Anda, dan ingin melihat Anda menjadi lebih baik.”

Paulus menegur Petrus karena telah bersikap plin plan (ayat 12). Teguran Paulus ini tentu saja dilandasi dengan maksud baik. Sebab kalau mau aman sebetulnya Paulus bisa saja memilih diam dan membiarkan Petrus dengan kesalahannya itu.

Lagi pula, tidak ada untung apa-apa bagi Paulus dengan menegur Petrus. Malah mungkin bisa disalahartikan.

Jadi, kalau kita mendapat teguran dari siapa pun, jangan buru-buru merespons dengan sikap antipati. Apalagi dengan marah. Sebab bisa jadi teguran itu justru sangat berguna buat kita. Lihat itu sebagai sebentuk cara seseorang peduli dan mengasihi kita

Teguran yang membangun itu tanda kasih

Damai dari Tuhan Yesus menyertaimu .

Penulis: Ayub Yahya 

Minggu, 12 Desember 2010

Foto Genik

1 Korintus 13:8-13

13:8 Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.

13:9 Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.

13:10 Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.

13:11 Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.

13:12 Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.

13:13 Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. 

Bacaan FT : 1 Korintus 13:8-13

Ayat Mas : 1 Korintus 13:12
Apakah wajah Anda terlihat lebih cantik di foto daripada aslinya? Itu tandanya Anda fotogenik! Sebaliknya, jika Anda tidak terlihat lebih baik di foto, berarti Anda tidak fotogenik. Namun, sebenarnya foto memang tidak dapat menampilkan citra wajah kita seutuhnya, sebab lensa kamera hanya melihat wajah dari satu sudut.

Padahal mata kita melihat seseorang dari berbagai sudut yang berbeda. Hasilnya, apa yang dilihat mata jauh lebih utuh dari yang dilihat kamera. Lagi pula lensa kamera tidak dapat menangkap karisma yang terpancar dari wajah. Jadi, sebuah foto bisa menipu!

Gambaran kita terhadap Allah juga tidak sempurna. Bagai hasil jepretan kamera. Menurut Paulus, kita melihat-Nya “bagai gambaran yang samar-samar”. Tidak utuh. Gambaran kita tentang kasih Allah bisa keliru. Misalnya, orang yang sedang ditimpa musibah beruntun sering merasa Allah tidak lagi mengasihinya.

Seorang anak manja mengira Allah mengasihi hanya ketika permohonannya dikabulkan. Tidak utuhnya gambaran kita terhadap Allah kadang membuat kita sulit memahami jalan dan kehendak-Nya.

Supaya tidak salah paham, kita perlu meninggalkan “sifat kekanak-kanakan”. Berhentilah memandang Allah hanya berdasar perasaan. Belajarlah mengenal Tuhan secara objektif, lewat apa yang tertulis tentang Dia dalam firman-Nya.

Gambaran keliru tentang Allah bisa menipu; membuat kita kecewa kepada-Nya. Di sinilah pentingnya iman dan harapan. Yakinlah bahwa Allah selalu lebih indah dari yang Anda bayangkan. Kasih-Nya bagi Anda jauh lebih luas dan dalam dari dugaan Anda. Seluas dan sedalam samudra!

FOTO TUHAN YANG SEBENARNYA SELALU JAUH LEBIH INDAH DARI GAMBARAN KITA

Damai dari Tuhan Yesus menyertaimu .

Penulis: Juswantori Ichwan 

Rabu, 24 November 2010

Sentuhan Kasih

Kolose 4:10-18

4:10 Salam kepada kamu dari Aristarkhus, temanku sepenjara dan dari Markus, kemenakan Barnabas--tentang dia kamu telah menerima pesan; terimalah dia, apabila dia datang kepadamu--

4:11 dan dari Yesus, yang dinamai Yustus. Hanya ketiga orang ini dari antara mereka yang bersunat yang menjadi temanku sekerja untuk Kerajaan Allah; mereka itu telah menjadi penghibur bagiku.

4:12 Salam dari Epafras kepada kamu; ia seorang dari antaramu, hamba Kristus Yesus, yang selalu bergumul dalam doanya untuk kamu, supaya kamu berdiri teguh, sebagai orang-orang yang dewasa dan yang berkeyakinan penuh dengan segala hal yang dikehendaki Allah.

4:13 Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang dia, bahwa ia sangat bersusah payah untuk kamu dan untuk mereka yang di Laodikia dan Hierapolis.

4:14 Salam kepadamu dari tabib Lukas yang kekasih dan dari Demas.

4:15 Sampaikan salam kami kepada saudara-saudara di Laodikia; juga kepada Nimfa dan jemaat yang ada di rumahnya.

4:16 Dan bilamana surat ini telah dibacakan di antara kamu, usahakanlah, supaya dibacakan juga di jemaat Laodikia dan supaya surat yang untuk Laodikia dibacakan juga kepadamu.

4:17 Dan sampaikanlah kepada Arkhipus: Perhatikanlah, supaya pelayanan yang kauterima dalam Tuhan kaujalankan sepenuhnya.

4:18 Salam dari padaku, Paulus. Salam ini kutulis dengan tanganku sendiri. Ingatlah akan belengguku. Kasih karunia menyertai kam

Bacaan FT : Kolose 4:10-18

Ayat Mas : Kolose 4:18


Dulu, setiap Natal tiba, orang Inggris suka mengirim surat pendek berisi ucapan Natal di atas kartu kosong. Lama-kelamaan cara ini dianggap tidak praktis. Tahun 1843, Sir Henry Cole mencetak kartu bergambar disertai ucapan selamat, sehingga ia tinggal membubuhkan tanda tangan di atasnya. Sejak itulah kartu ucapan mulai populer. Kini cara itu pun dipandang kurang praktis. Banyak orang mengirim ucapan Natal lewat SMS. Sekali tekan tombol “Kirim”, ratusan orang menerima ucapan Natal. Praktis memang, tetapi sentuhan kasihnya kurang terasa.

Untuk menunjukkan cinta kasih, orang harus bersedia repot. Ketika Rasul Paulus mengakhiri tulisannya bagi jemaat Kolose, ia mengucapkan salam yang panjang. Salam dari rekan sepelayanannya disebut satu per satu: dari Aristarkus, Markus, Yustus, Epafras, tabib Lukas, dan Demas. Selain itu Paulus juga menulis bagian salam ini dengan tulisan tangannya sendiri. Padahal isi suratnya ditulis dengan bantuan seorang sekretaris. Sungguh tidak praktis! Namun, lewat semua ini Paulus ingin menunjukkan sentuhan kasihnya yang bersifat pribadi pada jemaat Kolose.

Kesibukan dan kemajuan teknologi kadang membuat kita menyukai segala sesuatu yang serbapraktis dan otomatis. Sentuhan kasih pun diabaikan. Ketika seorang sahabat berduka, kita merasa cukup menelepon atau menyatakan rasa duka lewat SMS, ketimbang membesuk dan memeluknya. Saat ia menikah, kita hanya menghadiri pestanya. Enggan menghadiri pemberkatan pernikahannya. Banyak orang merindukan sentuhan kasih Anda. Maukah Anda sedikit repot untuk mewujudkannya?

Orang lebih membutuhkan sentuhan kasih Anda
daripada semua talenta dan harta milik Anda

Damai dari Tuhan Yesus menyertaimu

Penulis: Juswantori Ichwan 

Minggu, 21 November 2010

Memiliki Yesus

1 Yohanes 5:1-12

5:1 Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga Dia yang lahir dari pada-Nya.

5:2 Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya.

5:3 Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,

5:4 sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.

5:5 Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?

5:6 Inilah Dia yang telah datang dengan air dan darah, yaitu Yesus Kristus, bukan saja dengan air, tetapi dengan air dan dengan darah. Dan Rohlah yang memberi kesaksian, karena Roh adalah kebenaran.

5:7 Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.

5:8 Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi): Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu.

5:9 Kita menerima kesaksian manusia, tetapi kesaksian Allah lebih kuat. Sebab demikianlah kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya.

5:10 Barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; barangsiapa tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia menjadi pendusta, karena ia tidak percaya akan kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya.

5:11 Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya.

5:12 Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup. 

Bacaan FT : 1 Yohanes 5:1-12

Ayat Mas : 1 Yohanes 5:12


Ketika kecil, kita cenderung sangat posesif. Sulit bagi kita untuk berbagi. Kita terganggu kalau mainan kita dipinjam teman dalam waktu cukup lama, apalagi kalau sampai dibawa pulang. Bagi seorang anak, memiliki berarti menguasai dan memonopoli secara absolut.

Surat Yohanes menyatakan bahwa Allah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita, dan hidup itu berada di dalam Anak-Nya, Yesus Kristus. “Siapa yang memiliki Anak, ia memiliki hidup” (ayat 12). Apakah itu berarti, seperti pemaknaan anak kecil, kita menguasai dan memonopoli Yesus Kristus? Bukan! Yohanes justru ingin menekankan pentingnya umat percaya untuk hidup dalam respons yang tepat terhadap rahmat Allah (1 Yohanes 4:8, 11). Maksudnya, rahmat Allah perlu disambut oleh iman dan sikap hidup beriman dari pihak kita. Gayung pun bersambut, ketika kita merespons rahmat Allah yang mendatangi kita di dalam Yesus.

Tidak semua orang yang mengaku percaya terhitung sebagai mereka yang memiliki Yesus. Yesus bukan barang yang bisa kita kuasai dan kita monopoli. Memiliki Yesus berarti beriman di dalam dan hidup menurut teladan Yesus Kristus. Memiliki Yesus bukan hanya soal memiliki ajaran yang benar, melainkan soal menjalankan tindakan yang benar, sesuai dengan iman (ayat 2).

Anda mau membuktikan bahwa Anda memiliki Yesus? Bukan seperti anak kecil yang ingin menguasai dan memonopoli mainan miliknya, kita yang sungguh-sungguh memiliki Yesus malah tergerak untuk membagikan kasih Yesus kepada sesama melalui tindakan nyata. Dan kita tidak akan merasa berat menjalankan perintah-Nya.

Kasih Allah tidak dapat dimiliki secara eksklusif
Melainkan merengkuh orang lain untuk turut mengecapnya

Damai dari Tuhan Yesus menyertaimu

Penulis: Daniel K. Listijabudi 

Rabu, 17 November 2010

Ndendeng

Roma 1:18-23

1:18 Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.

1:19 Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka.

1:20 Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.

1:21 Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.

1:22 Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh.

1:23 Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar. 

Bacaan FT : Roma 1:18-23, Wahyu 9:13-21

Ayat Mas : Wahyu 9:20

Ndendeng (kedua huruf “e” dibaca seperti pada kata “materai“, bukan “bebek”) adalah istilah bahasa Jawa yang kira-kira artinya keras kepala, tidak bisa diberi tahu. Kata ini kerap dipakai untuk menjuluki anak-anak yang nakal dan tidak mau menuruti nasihat orangtua.

Namun, bukan cuma anak-anak yang bisa ndendeng. Banyak orang dewasa di sepanjang zaman yang juga bersikap demikian terhadap Allah. Salah satu contohnya digambarkan dalam bacaan Alkitab kita hari ini.

Dalam sejarah manusia, Tuhan berulang kali, dengan berbagai cara, menyatakan diri-Nya, memanggil semua orang untuk bertobat. Dari cara yang halus melalui ciptaan-Nya (Roma 1:19,20), firman-Nya (2 Raja-Raja 17:13,14), sampai pada cara yang teramat keras, yaitu dengan hukuman yang dahsyat (Wahyu 9:13-19). Namun, banyak dari mereka yang bergeming. Mereka tetap mengeraskan hati dan menolak panggilan-Nya.

Apakah kita termasuk orang yang demikian? Apakah kita juga adalah orang-orang yang bersikap keras kepala di hadapan Allah, meski mengaku sebagai umat-Nya? Secara spesifik mungkin dengan menyimpan suatu dosa dalam hidup kita, yang Allah ingin agar kita tinggalkan. Dia sudah menyatakannya dengan berbagai cara. Melalui hati nurani kita, firman-Nya di dalam Alkitab, teguran orang, atau melalui peristiwa-peristiwa yang kita alami. Suara-Nya sedemikian jelas, sehingga kita tahu benar apa yang Dia mau. Akan tetapi, kita terus mengeraskan hati, tidak mau tunduk kepada-Nya. Apabila demikian sikap kita, bertobatlah. Lunakkan hati dan ikuti perintah-Nya. Jangan lagi menjadi seorang yang ndendeng kepada Allah.

Ndendeng kepada orangtua merepotkan
ndendeng kepada Allah mematikan

Damai dari Tuhan Yesus menyertaimu

Penulis: Alison Subiantoro 

Senin, 15 November 2010

Batu Lebih Dulu

2 Tawarikh 1:1-13

1:1 Salomo, anak Daud, menjadi kuat dalam kedudukannya sebagai raja; TUHAN, Allahnya, menyertai dia dan menjadikan kekuasaannya luar biasa besarnya.

1:2 Salomo memberi perintah kepada seluruh Israel, kepada kepala-kepala pasukan seribu dan pasukan seratus, kepada para hakim dan kepada semua pemimpin di seluruh Israel, yakni para kepala puak.

1:3 Lalu pergilah Salomo bersama-sama dengan segenap jemaah itu ke bukit pengorbanan yang di Gibeon, sebab di situlah Kemah Pertemuan Allah yang dibuat Musa, hamba TUHAN itu, di padang gurun.

1:4 --Tetapi Daud telah mengangkut tabut Allah dari Kiryat-Yearim ke tempat yang disiapkannya bagi tabut itu, --sebab ia telah memasang kemah untuk tabut itu di Yerusalem.

1:5 Namun mezbah tembaga yang dibuat Bezaleel bin Uri bin Hur masih ada di sana di depan Kemah Suci TUHAN. Maka ke sanalah Salomo dan jemaah itu meminta petunjuk TUHAN.

1:6 Salomo mempersembahkan korban di sana di hadapan TUHAN di atas mezbah tembaga yang di depan Kemah Pertemuan itu; ia mempersembahkan seribu korban bakaran di atasnya.

1:7 Pada malam itu juga Allah menampakkan diri kepada Salomo dan berfirman kepadanya: "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu."

1:8 Berkatalah Salomo kepada Allah: "Engkaulah yang telah menunjukkan kasih setia-Mu yang besar kepada Daud, ayahku, dan telah mengangkat aku menjadi raja menggantikan dia.

1:9 Maka sekarang, ya TUHAN Allah, tunjukkanlah keteguhan janji-Mu kepada Daud, ayahku, sebab Engkaulah yang telah mengangkat aku menjadi raja atas suatu bangsa yang banyaknya seperti debu tanah.

1:10 Berilah sekarang kepadaku hikmat dan pengertian, supaya aku dapat keluar dan masuk sebagai pemimpin bangsa ini, sebab siapakah yang dapat menghakimi umat-Mu yang besar ini?"

1:11 Berfirmanlah Allah kepada Salomo: "Oleh karena itu yang kauingini dan engkau tidak meminta kekayaan, harta benda, kemuliaan atau nyawa pembencimu, dan juga tidak meminta umur panjang, tetapi sebaliknya engkau meminta kebijaksanaan dan pengertian untuk dapat menghakimi umat-Ku yang atasnya Aku telah merajakan engkau,

1:12 maka kebijaksanaan dan pengertian itu diberikan kepadamu; selain itu Aku berikan kepadamu kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sebagaimana belum pernah ada pada raja-raja sebelum engkau dan tidak akan ada pada raja-raja sesudah engkau."

1:13 Lalu pulanglah Salomo dari bukit pengorbanan yang di Gibeon itu, dari depan Kemah Pertemuan, ke Yerusalem dan ia memerintah atas Israel. 

Bacaan FT : 2 Tawarikh 1:1-13

Ayat Mas : 2 Tawarikh 1:12
Pernah Anda mencoba memadati ember plastik dengan batu dan pasir? Mana yang akan Anda masukkan dulu? Jika Anda memulai dengan mengisikan pasir, Anda akan segera kekurangan ruangan untuk memasukkan batu. Jika Anda memulai dengan mengisikan batu, Anda dapat memenuhi celah-celah di antaranya dengan pasir.

Semacam itulah penyusunan prioritas hidup. Jika kita mendahulukan hal-hal yang utama, kemungkinan besar kita masih memiliki waktu untuk hal-hal yang sekunder. Sebaliknya, jika waktu kita sudah tersita untuk hal-hal yang sekunder, tidak jarang hal yang utama malah tersisih.

Tuhan memberi Salomo kesempatan untuk mengajukan permintaan khusus. Sebagai raja Israel, apa kiranya yang ia inginkan? Secara bijaksana ia memilih meminta hikmat dan pengertian untuk memimpin bangsa yang besar itu. Tuhan berkenan atas permohonannya. Selain mengaruniakan hikmat dan pengertian, Tuhan masih memberinya bonus berupa kekayaan, harta benda, dan kemuliaan. Karena ia memilih yang utama, hal yang sekunder pun ditambahkan baginya. Coba bayangkan seandainya Salomo meminta kekayaan. Rasanya Tuhan tetap akan mengabulkan permintaan itu, tetapi belum tentu Dia memberikan bonus berupa hikmat dan pengertian.

Apakah hal yang utama dalam kehidupan Anda? Apakah Anda sudah menyusun prioritas secara benar dengan mendahulukan hal yang utama? Jika hidup Anda ternyata lebih banyak disibukkan oleh hal-hal sekunder, Anda perlu mengevaluasi dan menyusun ulang prioritas sebelum Anda menyesal karena kehilangan hal-hal yang penting dan berharga.

MENGUTAMAKAN HAL YANG UTAMA
ADALAH KUNCI MENUJU KEHIDUPAN YANG BERMAKNA

Damai dari Tuhan Yesus menyertaimu

Penulis: Arie Saptaji 

Minggu, 14 November 2010

Bisa Karena Kuasa

1 Korintus 4:14-21

4:14 Hal ini kutuliskan bukan untuk memalukan kamu, tetapi untuk menegor kamu sebagai anak-anakku yang kukasihi.

4:15 Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu.

4:16 Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!

4:17 Justru itulah sebabnya aku mengirimkan kepadamu Timotius, yang adalah anakku yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan. Ia akan memperingatkan kamu akan hidup yang kuturuti dalam Kristus Yesus, seperti yang kuajarkan di mana-mana dalam setiap jemaat.

4:18 Tetapi ada beberapa orang yang menjadi sombong, karena mereka menyangka, bahwa aku tidak akan datang lagi kepadamu.

4:19 Tetapi aku akan segera datang kepadamu, kalau Tuhan menghendakinya. Maka aku akan tahu, bukan tentang perkataan orang-orang yang sombong itu, tetapi tentang kekuatan mereka.

4:20 Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa.

4:21 Apakah yang kamu kehendaki? Haruskah aku datang kepadamu dengan cambuk atau dengan kasih dan dengan hati yang lemah lembut? 

Bacaan FT : 1 Korintus 4:14-21

Ayat Mas : 1 Korintus 4:20
Apa yang kita pikirkan ketika membaca kisah tokoh-tokoh Alkitab seperti Musa, Petrus, Elia, dan Gideon? Pastilah kita terkagum-kagum pada mereka. Mereka adalah orang-orang yang melakukan hal-hal luar biasa untuk Tuhan. Biasanya kisah mereka kerap diangkat oleh guru-guru Sekolah Minggu untuk menggambarkan betapa hebatnya kuasa Tuhan lewat orang yang dipakai oleh-Nya. Padahal jika kita membaca lagi di dalam Alkitab, kita akan menemukan bahwa sesungguhnya mereka ini adalah orang-orang biasa; seperti kita. Lalu apa yang membuat mereka tampak berbeda? Salah satunya karena mereka mengandalkan kuasa Tuhan.

Paulus menegur jemaat di Korintus supaya mereka tahu bahwa pekerjaan Tuhan tidak bergantung pada hebatnya sebuah pelayanan dilakukan, tetapi pada kuasa yang menyertai pelayanan itu. Ini berkaitan dengan dikirimnya Timotius, sang hamba Tuhan yang masih muda. Dibandingkan para pendahulunya, seperti Kefas dan Apolos—bahkan dibanding beberapa jemaat Korintus yang memiliki berbagai karunia, mungkin Timotius bukanlah siapa-siapa. Itulah yang membuat mereka menjadi sombong serta meremehkan Timo­tius. Dan, Paulus mengingatkan mereka supaya tetap menghormati Timotius, karena pelayanannya pun berdasarkan kuasa Tuhan.

Ketika kita terjun ke dalam pelayanan, janganlah merasa rendah diri karena kita tidak dapat melakukan hal yang hebat seperti orang-orang yang memiliki kemampuan khusus. Lakukanlah pelayanan sesuai dengan kemampuan unik kita. Penting juga untuk melatih diri—mengembangkan diri di bidang masing-masing, dengan tetap bersandar pada Tuhan, agar kuasa Tuhan bekerja melalui kita.

Melayani dengan mengandalkan kuasa Tuhan
akan memberi dampak luar biasa

Damai dari Tuhan Yesus menyertaimu
 

Kamis, 11 November 2010

Kualitas Rencana, Kualitas Hidup

Yesaya 32:1-8

32:1 Sesungguhnya, seorang raja akan memerintah menurut kebenaran, dan pemimpin-pemimpin akan memimpin menurut keadilan,

32:2 dan mereka masing-masing akan seperti tempat perteduhan terhadap angin dan tempat perlindungan terhadap angin ribut, seperti aliran-aliran air di tempat kering, seperti naungan batu yang besar, di tanah yang tandus.

32:3 Mata orang-orang yang melihat tidak lagi akan tertutup, dan telinga orang-orang yang mendengar akan memperhatikan.

32:4 Hati orang-orang yang terburu nafsu akan tahu menimbang-nimbang, dan lidah orang-orang yang gagap akan dapat berbicara jelas.

32:5 Orang bebal tidak akan disebutkan lagi orang yang berbudi luhur, dan orang penipu tidak akan dikatakan terhormat.

32:6 Sebab orang bebal mengatakan kebebalan, dan hatinya merencanakan yang jahat, yaitu bermaksud murtad dan mengatakan yang menyesatkan tentang TUHAN, membiarkan kosong perut orang lapar dan orang haus kekurangan minuman.

32:7 Kalau penipu, akal-akalnya adalah jahat, ia merancang perbuatan-perbuatan keji untuk mencelakakan orang sengsara dengan perkataan dusta, sekalipun orang miskin itu membela haknya.

32:8 Tetapi orang yang berbudi luhur merancang hal-hal yang luhur, dan ia selalu bertindak demikian. 


Bacaan FT : Yesaya 32:1-8

Ayat Mas : Yesaya 32:6-8



Cinderella bersepatu kaca? Ya, begitulah dongeng yang kita baca dan dengar berulang kali. Padahal sebenarnya Cinderella bersepatu kaca adalah contoh sebuah kesalahan yang lestari. Pada 1697, Charles Perrault menulis kisah Cinderella dalam bahasa Prancis. Ia menggunakan frasa pantoufle en vair untuk sepatu Cinderella. Dalam penerjemahan ke dalam Bahasa Inggris, kata vair (bulu tupai) salah dibaca sebagai verre yang berarti kaca. Akibat kesalahan tak sengaja ini akhirnya jadilah Cinderella bersepatu kaca (Sumber: Ensiklopedia Kelirumologi, Jaya Suprana).

Ada kesalahan yang terjadi secara tidak sengaja, tetapi ada orang yang memang berencana untuk melakukan hal yang salah. Yesaya menuturkan bahwa salah satu ciri orang bebal adalah hatinya merencanakan yang jahat, dan bibirnya mengucapkan kata-kata yang menyesatkan (ayat 6). Orang bebal merancangkan perbuatan-perbuatan keji terhadap orang lain. Orang bebal bukan berarti bodoh. Bebal berarti tahu yang benar, tetapi merencanakan dan melakukan yang sebaliknya. Bertolak belakang dengan tindakan orang bebal, orang berbudi luhur merencanakan hal yang baik bagi orang lain (ayat 8). Kualitas manusia terlihat dari apa yang direncanakan dalam hati dan pikirannya. Khususnya apa yang direncanakannya bagi hidup orang lain.

Hari ini, apa yang kita rencanakan dalam hati dan pikiran? Rencana untuk memfitnah atau melakukan kejahatan terhadap orang lain menunjukkan kebebalan kita, sebab kita sudah tahu apa yang benar. Sebaliknya, keluhuran hati dan pikiran kita terlihat dari rencana untuk melakukan hal yang baik kepada orang lain, bahkan yang membenci kita sekalipun.

Kualitas hidup manusia terlihat dari rencana-rencananya

Damai dari Tuhan Yesus menyertaimu

Penulis: Wahyu Pramudya

Selasa, 09 November 2010

Peniup Pluit

Yeremia 21:11-14

21:11 Kepada keluarga raja Yehuda. Dengarlah firman TUHAN:

21:12 "Beginilah firman TUHAN, hai keturunan Daud: Jatuhkanlah hukum yang adil setiap pagi dan lepaskanlah dari tangan pemerasnya orang yang dirampas haknya, supaya kehangatan murka-Ku jangan menyambar seperti api dan menyala-nyala dengan tidak ada yang memadamkannya, oleh karena perbuatan-perbuatanmu yang jahat!

21:13 Sesungguhnya, Aku akan menjadi lawanmu, hai kota yang di atas lembah, gunung batu di dataran, demikianlah firman TUHAN, hai kamu yang berkata: Siapakah yang berani turun kepada kami dan siapakah yang berani masuk ke tempat perteduhan kami?

21:14 Aku akan melakukan pembalasan kepadamu sesuai dengan hasil perbuatanmu, demikianlah firman TUHAN. Aku akan menyalakan api di hutannya yang akan memakan habis segala sesuatu yang di sekitarnya."

----------------------------------------------------------------------------------

Yeremia 22:1-9

22:1 Beginilah firman TUHAN: "Pergilah ke istana raja Yehuda dan sampaikanlah di sana firman ini!

22:2 Katakanlah: Dengarlah firman TUHAN, hai raja Yehuda yang duduk di atas takhta Daud, engkau, pegawai-pegawaimu dan rakyatmu yang masuk melalui pintu-pintu gerbang ini!

22:3 Beginilah firman TUHAN: Lakukanlah keadilan dan kebenaran, lepaskanlah dari tangan pemerasnya orang yang dirampas haknya, janganlah engkau menindas dan janganlah engkau memperlakukan orang asing, yatim dan janda dengan keras, dan janganlah engkau menumpahkan darah orang yang tak bersalah di tempat ini!

22:4 Sebab jika kamu sungguh-sungguh melakukan semuanya itu, maka melalui pintu-pintu gerbang istana ini akan berarak masuk raja-raja yang akan duduk di atas takhta Daud dengan mengendarai kereta dan kuda: mereka itu, pegawai-pegawainya dan rakyatnya.

22:5 Tetapi jika kamu tidak mendengarkan perkataan-perkataan ini, maka Aku sudah bersumpah demi diri-Ku, demikianlah firman TUHAN, bahwa istana ini akan menjadi reruntuhan.

22:6 Sebab beginilah firman TUHAN mengenai keluarga raja Yehuda: Engkau seperti Gilead bagi-Ku, seperti puncak gunung Libanon! Namun pastilah Aku akan membuat engkau menjadi padang gurun, menjadi kota yang tidak didiami orang.

22:7 Aku akan menetapkan pemusnah-pemusnah terhadap engkau, masing-masing dengan senjatanya; mereka akan menebang pohon aras pilihanmu dan mencampakkannya ke dalam api.

22:8 Dan apabila banyak bangsa melewati kota ini, maka mereka akan berkata seorang kepada yang lain: Mengapakah TUHAN melakukan seperti itu kepada kota yang besar ini?

22:9 Orang akan menjawab: Oleh karena mereka telah melupakan perjanjian TUHAN, Allah mereka, dan telah sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya."

--------------------------------------------------------------------------

Yesaya 6:8

6:8 Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!" 


Bacaan FT : Yeremia 21:11-22:9

Ayat Mas : Yesaya 6:8

Seorang whistle blower (peniup peluit) adalah seseorang yang berani membongkar ketidakbenaran yang sedang berkembang di suatu organisasi. Orang ini biasanya adalah orang dalam, bagian dari organisasi itu. Pada konferensi tentang isu iklim global di Kopenhagen, Denmark, bulan Desember 2009 lalu, sempat muncul seorang yang demikian.

Ia membocorkan isi proposal sebuah surat keputusan yang kabarnya akan dilegalkan di sana. Isinya kontroversial. Cenderung menguntungkan negara-negara maju dan merugikan negara-negara berkembang atau miskin. Sontak, berbagai pihak mengecam proposal tersebut.

Fungsi sebagai “peniup peluit” ini mirip dengan peran para nabi di Alkitab. Yeremia adalah salah satunya. Ia hidup ketika bangsa Yehuda, secara khusus para pemimpinnya, hidup dalam dosa. Mereka tidak taat pada perintah Tuhan.

Menindas keadilan dan kebenaran, membiarkan pemeras merajalela, memperlakukan orang asing, yatim dan janda dengan keras, serta menganiaya orang-orang yang tak bersalah. Yeremia menyuarakan protesnya atas tindakan mereka. Menjadi penyambung lidah Allah bagi mereka. Ia tahu ini membahayakan hidupnya. Namun, ia memberi dirinya untuk menjadi alat Allah.

Kita pun dipanggil Tuhan untuk melanjutkan peran kenabian ini. Ketika berkembang sesuatu yang tidak benar di keluarga, gereja, kantor, organisasi, atau masyarakat kita, Tuhan memanggil kita untuk menyuarakan kebenaran.

Untuk membongkar ketidakbenaran yang sedang berkembang, bahkan kalau bisa untuk memperbaikinya. Tidak mudah, bahkan kerap membuat kita terancam. Kalau bukan kita, umat-Nya, siapa lagi yang bisa Dia utus?

Tuhan, ini aku, utuslah aku untuk menjadi nabi-Mu di lingkungan kami masing-masing

Damai dari Tuhan Yesus menyertaimu .

Penulis: Alison Subiantoro 

Rabu, 03 November 2010

Enggan Melepaskan

Kolose 3:1-17

3:1 Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.

3:2 Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.

3:3 Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.

3:4 Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.

3:5 Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,

3:6 semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka).

3:7 Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya.

3:8 Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.

3:9 Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,

3:10 dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;

3:11 dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.

3:12 Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.

3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.

3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.

3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. 

Bacaan FT : Kolose 3:1-17

Ayat Mas : Kolose 3:8-10

Suatu hari, seorang anak balita sedang asyik bermain pasir di pantai ditemani ayahnya. Lalu, datanglah penjaja es krim. Sang ayah segera membeli sebuah untuk anaknya. Namun, ketika melihat mulut anaknya penuh pasir, ia pun urung memberikan es krim itu. “Ayo, Sayang, buang dulu kotoran itu dari mulutmu.

Ayah punya sesuatu yang lebih baik untukmu!” Kisah ini ditulis oleh Max Lucado, ayah dari anak itu, dalam bukunya Just Like Jesus (Gloria Graffa). Ia berkata, ”Saya tak akan memberinya es krim sebelum ia membersihkan mulutnya, sebab saya mengasihinya. Saya tidak ingin ia makan es krim bercampur pasir!”

Tuhan menawarkan kepada kita sesuatu yang lebih baik. Hidup baru yang dipenuhi kasih, damai, dan berkat. Namun, sebelum bisa menerimanya, kita perlu membersihkan diri lebih dulu dari ”pasir” dosa. Tindak asusila, hawa nafsu, fitnah, dan perkataan kotor, bagaikan pasir yang memenuhi mulut.

Rasul Paulus menyebutnya sebagai kelakuan manusia lama yang harus ditanggalkan. Setelah itu baru kita dapat mencicipi indahnya hidup dengan kelakuan manusia baru (ayat 12).

Sama seperti es krim tidak enak dimakan bersama pasir, gaya hidup lama juga tidak bisa kita campur dengan gaya hidup manusia baru. Yang lama harus ditanggalkan, supaya yang baru bisa kita kenakan.

Lihatlah kembali buah rohani orang-orang pilihan Allah yang ditulis Paulus di ayat 12-15. Apakah ada di antaranya yang belum mewujud dalam diri Anda? Apa penyebabnya? Apakah karena masih ada sisa-sisa kelakuan manusia lama yang enggan Anda lepaskan?

Hidup kudus adalah keharusan, bukan pilihan

Damai dari Tuhan Yesus menyertaimu .

Penulis: Juswantori Ichwan 

Kamis, 28 Oktober 2010

Korma

Mazmur 92

92:1 Mazmur. Nyanyian untuk hari Sabat. (92-2) Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN, dan untuk menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi,

92:2 (92-3) untuk memberitakan kasih setia-Mu di waktu pagi dan kesetiaan-Mu di waktu malam,

92:3 (92-4) dengan bunyi-bunyian sepuluh tali dan dengan gambus, dengan iringan kecapi.

92:4 (92-5) Sebab telah Kaubuat aku bersukacita, ya TUHAN, dengan pekerjaan-Mu, karena perbuatan tangan-Mu aku akan bersorak-sorai.

92:5 (92-6) Betapa besarnya pekerjaan-pekerjaan-Mu, ya TUHAN, dan sangat dalamnya rancangan-rancangan-Mu.

92:6 (92-7) Orang bodoh tidak akan mengetahui, dan orang bebal tidak akan mengerti hal itu.

92:7 (92-8) Apabila orang-orang fasik bertunas seperti tumbuh-tumbuhan, dan orang-orang yang melakukan kejahatan berkembang, ialah supaya mereka dipunahkan untuk selama-lamanya.

92:8 (92-9) Tetapi Engkau di tempat yang tinggi untuk selama-lamanya, ya TUHAN!

92:9 (92-10) Sebab, sesungguhnya musuh-Mu, ya TUHAN, sebab, sesungguhnya musuh-Mu akan binasa, semua orang yang melakukan kejahatan akan diceraiberaikan.

92:10 (92-11) Tetapi Kautinggikan tandukku seperti tanduk banteng, aku dituangi dengan minyak baru;

92:11 (92-12) mataku memandangi seteruku, telingaku mendengar perihal orang-orang jahat yang bangkit melawan aku.

92:12 (92-13) Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon;

92:13 (92-14) mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita.

92:14 (92-15) Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar,

92:15 (92-16) untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya. 

Bacaan FT : Mazmur 92

Ayat Mas : Mazmur 92:13,14

Pohon korma itu istimewa. Ia mampu tumbuh di tengah gurun gersang di Timur Tengah. Di tengah cuaca panas dan persediaan air yang minim, korma bukan sekedar bisa bertahan hidup. Ia pun mampu berbuah. Bahkan, buahnya manis. Makin tua pohonnya, makin manis buahnya! Daya tahan pohon korma terletak pada akarnya. Ketika biji korma tumbuh, akarnya lebih dulu tumbuh menghunjam jauh ke dalam tanah. Mencari air. Baru setelah itu tumbuh batang dan daunnya.

Pemazmur menggambarkan orang beriman bagaikan pohon korma yang ditanam di bait Tuhan. Firman dan kehadiran Tuhan menjadi makanannya. Ini membuatnya bertumbuh sehat dari tahun ke tahun. Hasilnya? Setelah menjadi tua, ia tetap dapat berbuah manis sekalipun tubuh makin renta dan sakit-penyakit melanda. Ketika kecantikan fisik memudar, kecantikan batin makin nampak. Ia puas terhadap Tuhan. Ia tidak menuduh Tuhan curang (ayat 16), sehingga dapat bersaksi tentang kebaikan-Nya. Sebaliknya, orang tak beriman digambarkan seperti tumbuh-tumbuhan yang tak berbuah (ayat 8). Bertambahnya usia membuat hati mereka menjadi makin pahit, bukan makin manis. Tumpukan persoalan, dendam, dan kekecewaan memenuhi hati. Bagi mereka, masa tua menakutkan dan menyedihkan.

Cobalah periksa; dari tahun ke tahun, hidup Anda makin manis atau makin pahit? Makin suka bersyukur atau mengeluh? Makin puas dengan Tuhan dan sesama, atau makin kecewa? Makin mudah mengampuni atau makin menumpuk dendam? Tanamlah diri Anda di Bait Tuhan. Serap dan taati firman-Nya. Hidup Anda pun akan berbuah manis bagai korma!

Bisa menghadapi tiap hari dengan senyuman
adalah berkat istimewa dari Tuhan

Damai dari Tuhan Yesus menyertaimu

Penulis: Juswantori Ichwan 

Rabu, 27 Oktober 2010

Orang Yang Paling Bahagia Di Dunia


Dalam sebuah artikel yang dimuat oleh koran Kompas pada 22 Maret 2008, sebuah pernyataan menarik diungkapkan oleh dewan pengamatan propinsi British Colombia, Kanada : "Sudah sering terdengar bahwa uang tidak dapat membeli kebahagiaan. Namun itu kuno, karena pada nyatanya uang bisa membawa kebahagiaan." Menariknya lagi ada sebuah tulisan yang menyatakan bahwa, "uang sangat mungkin mendatangkan kebahagiaan sepanjang uang itu dipakai untuk tujuan sosial", tutur para ilmuwan di Vancouver yang diterbitkan majalah Science edisi Jumat, 21 Maret 2008.]

Menurut Elizabeth Dunn, psikolog dari University of British Columbia, "penelitian menunjukkan sikap memberi menghasilkan efek bahagia". Untuk menyimpulkan hal ini, ia bersama Lara Aknin dan Michael Norton, mahasiswa Harvard Bussines School, melakukan observasi dengan orang-orang yang menghasilkan 2 kategori :

Pertama, orang yang memiliki uang dengan kecenderungan berbelanja untuk kepentingan pribadi, selalu diwarnai dengan mengomel, tidak puas, adu mulut dengan kasir toko, memarahin anak dan para isteri kesal pada suaminya karena masih banyak barang yang tidak bisa dibeli.

Kedua, orang yang mengalokasikan sebagian uangnya untuk tujuan sosial seperti menyumbangkan ke yayasan-yayasan atau orang lain yang membutuhkan, hasilnya ternyata : kelompok orang seperti ini merasa lebih berbahagia dalam hidupnya.

Jika hari ini Anda ingin memilih hidup berbahagia dan terus mengalaminya sepanjang perjalanan hidup di dunia ini, Berbagilah. Semakin sering Anda memberi maka Anda akan menerima kebahagiaan yang lebih besar dari apa yang pernah terbayangkan oleh diri Anda sendiri.

Lebih baik memberi daripada menerima, Anda berani melakukanya? Jangan tunda-tunda lagi

Belajar Pada MURAI


Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di surga (Matius 6:26)

Burung-burung yang beterbangan secara liar memang tidak menabur dan menuai. Namun, pemeliharaan Tuhan terus mereka alami, sebab mereka bekerja keras sepanjang hari. Sebuah penelitian terhadap aktivitas kehidupan burung menemukan fakta bahwa burung murai, sebagai contoh, setiap hari bangun dini hari pukul 2.30 dan mencari makan hingga larut pukul 21.30. Jadi, setiap hari mereka bekerja selama 19 jam. Tak cuma itu. Burung murai bolak-balik ke sarangnya hingga sekitar 200 kali sehari, demi memberi makan anak-anaknya.

Berapa lama kita bekerja dalam sehari? Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai. Kita tidak dapat berpangku tangan dan berdoa meminta Tuhan menurunkan berkat-Nya dari langit secara ajaib. Ada bagian yang harus kita kerjakan dan Tuhan akan mengerjakan bagian-Nya. Semangat dan keuletan burung murai justru menjadi teladan indah bagi kita. Diam berpangku tangan dan tidak melakukan apa-apa hanya mendatangkan kesia-siaan. Namun, ketika kita berusaha, maka berkat Allah akan mengikuti kita.

Yang penting adalah, sekeras apa pun kita berusaha memenuhi kebutuhan, kita mesti selalu mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenarannya (ayat 33); mendahulukan nilai-nilai kekudusan dan kebenaran yang Allah tetapkan, melandasi setiap karya dan kerja dengan kasih, dan sebagainya. Sebab justru di situlah kunci berkat itu berada. Ketika Dia menjadi yang utama, maka pemeliharaan- Nya akan ditambahkan dengan murah hati kepada kita. Sebab ketika kita ada di jalan-Nya, apa pun yang kita usahakan pasti akan Dia berkati.

TUHAN YANG MEMBERKATI ADALAH TUHAN YANG TERUS BEKERJA MAKA KITA YANG RINDU DIBERKATI JUGA HARUS GIAT BEKERJA 

Cantik

Amsal 31:10-31

31:10 Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.

31:11 Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan.

31:12 Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya.

31:13 Ia mencari bulu domba dan rami, dan senang bekerja dengan tangannya.

31:14 Ia serupa kapal-kapal saudagar, dari jauh ia mendatangkan makanannya.

31:15 Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan 
membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan.

31:16 Ia membeli sebuah ladang yang diingininya, dan dari hasil tangannya kebun anggur ditanaminya.

31:17 Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya.

31:18 Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam.

31:19 Tangannya ditaruhnya pada jentera, jari-jarinya memegang pemintal.

31:20 Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin.

31:21 Ia tidak takut kepada salju untuk seisi rumahnya, karena seluruh isi rumahnya berpakaian rangkap.

31:22 Ia membuat bagi dirinya permadani, lenan halus dan kain ungu pakaiannya.

31:23 Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri.

31:24 Ia membuat pakaian dari lenan, dan menjualnya, ia menyerahkan ikat pinggang kepada pedagang.

31:25 Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan.

31:26 Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya.

31:27 Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya.

31:28 Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia:

31:29 Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua.

31:30 Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.

31:31 Berilah kepadanya bagian dari hasil tangannya, biarlah perbuatannya memuji dia di pintu-pintu gerbang! 


Bacaan FT: Amsal 31:10-31

Ayat Mas : Amsal 31:30


Maria Hartiningsih, wartawan harian Kompas, menulis, “Kalau ingin mata yang indah, carilah kebaikan dalam diri setiap orang; kalau ingin bibir yang menawan, ucapkanlah kata-kata yang bijaksana; kalau ingin tubuh yang semampai, berjalanlah dengan ilmu pengetahuan; dan kalau ingin tubuh yang langsing, berbagilah makanan dengan orang yang miskin.”

Wataklah yang membuat cantik, bukan sekadar penampilan fisik. Kebijaksanaan wanita yang digambarkan dalam amsal ini terlihat dari perilakunya terhadap suami, anak, pekerjaan, dan rumahnya. Rambut yang indah, mata yang cantik, bibir yang menarik ataupun tubuh yang menawan tidak disinggung sama sekali.

Akan tetapi, yang ditekankan adalah bahwa karena perbuatannyalah seorang wanita bijak layak dipuji (ayat 31), sama sekali bukan rupa dan keindahan jasmaniahnya. Wanita yang bijak ini pandai mengatur rumahnya, terampil dalam kerjanya, dan tenang menghadapi masa depannya. Ia “cantik” karena kepribadian dan kebajikannya yang luhur.

Keindahan wanita luhur dalam amsal ini seperti menggugat iklan dan promosi kecantikan yang sungguh memborbardir imajinasi kita akan kecantikan. Sampo, sabun, kosmetik, suplemen, perawatan wajah dan kulit, bahkan sampai operasi plastik; sebagian besar berisi ilusi akan kecantikan.

Mampu mengubah permukaan wajah, namun mengabaikan keindahan batiniah. Cantik seperti itu akan sia-sia jika tidak disertai kebaikan, keramahan, dan budi pekerti. Jadilah cantik di dalam watak Anda, sebab kecantikan kulit akhirnya akan sirna ditelan masa.

CANTIK WAJAH ITU RELATIF DAN SEMENTARA TETAPI INDAHNYA WATAK ITU LEBIH KUAT DAN LEBIH KEKAL

Damai dari TUHAN YESUS menyertaimu .

Penulis: Denni Boy Saragih 

Kamis, 21 Oktober 2010

Dimulai Dari Diri Sendiri

Kejadian 27:30-36

27:30 Setelah Ishak selesai memberkati Yakub, dan baru saja Yakub keluar meninggalkan Ishak, ayahnya, pulanglah Esau, kakaknya, dari berburu.

27:31 Ia juga menyediakan makanan yang enak, lalu membawanya kepada ayahnya. Katanya kepada ayahnya: "Bapa, bangunlah dan makan daging buruan masakan anakmu, agar engkau memberkati aku."

27:32 Tetapi kata Ishak, ayahnya, kepadanya: "Siapakah engkau ini?" Sahutnya: "Akulah anakmu, anak sulungmu, Esau."

27:33 Lalu terkejutlah Ishak dengan sangat serta berkata: "Siapakah gerangan dia, yang memburu binatang itu dan yang telah membawanya kepadaku? Aku telah memakan semuanya, sebelum engkau datang, dan telah memberkati dia; dan dia akan tetap orang yang diberkati."

27:34 Sesudah Esau mendengar perkataan ayahnya itu, meraung-raunglah ia dengan sangat keras dalam kepedihan hatinya serta berkata kepada ayahnya: "Berkatilah aku ini juga, ya bapa!"

27:35 Jawab ayahnya: "Adikmu telah datang dengan tipu daya dan telah merampas berkat yang untukmu itu."

27:36 Kata Esau: "Bukankah tepat namanya Yakub, karena ia telah dua kali menipu aku. Hak kesulunganku telah dirampasnya, dan sekarang dirampasnya pula berkat yang untukku." Lalu katanya: "Apakah bapa tidak mempunyai berkat lain bagiku?" 


Bacaan FT : Kejadian 27: 30-36

Ayat Mas : Matius 7:12


Penipu dan pengecut. Awalnya, Yakub jelas bukan tokoh Alkitab favorit saya. Akan tetapi, ternyata ia mengajarkan saya sebuah filosofi hidup yang penting: setiap perbuatan memiliki konsekuensi yang akan kembali pada kita; entah perbuatan baik, atau pun perbuatan buruk. Dalam kalimat yang lain, seperti yang dikatakan Paulus, “Apa yang ditabur, itu juga yang dituai.”

Pengalaman hidup Yakub menunjukkan “hukum” tersebut. Pada masa muda, Yakub menipu ayahnya, Ishak, dan kakaknya, Esau. Ternyata kemudian, ketika ia melarikan diri dari rumahnya, ia ditipu pamannya, Laban (Kejadian 29:1-30). Dan bahkan di saat usianya telah beranjak tua, ia ditipu pula oleh anak-anaknya (Kejadian 37: 31-35).

Maka betapa pentingnya kita menjaga sikap dan perilaku kita sendiri. Di kemudian hari, pada masa Perjanjian Baru, Tuhan Yesus berulang kali menekankan pentingnya memulai perbuatan baik dari diri sendiri. Misalnya, jangan menghakimi kalau tidak mau dihakimi dengan takaran yang sama. Salah satu yang paling terkenal tentu ucapan-Nya dalam doa Bapa Kami: “dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.”

Kerap kali kita frustasi ketika berada dalam situasi yang kurang baik. Acap kali kita pusing berputar-putar mencari solusi atas permasalahan yang menghadang. Tetapi barangkali kita lupa bahwa kunci terpentingnya ada dalam diri kita sendiri. Seperti yang sering dikatakan oleh orang bijak: jika kita ingin membuat dunia menjadi lebih baik, ubahlah diri kita sendiri dulu.

Apabila segala sesuatu akhirnya kembali kepada kita
apakah yang akan kita gemakan?

Damai dari Tuhan Yesus menyertaimu

Penulis: Olivia Elena